Rabu, 06 Juni 2012

Cerpen "pengorbananmu"



Pagi hari yang sejuk, sangat tepat bagiku untuk merapikan gudang berdebu yang berada di ujung rumah ini. Barang-barang yang telah tertutupi debu tebal menyambutku dengan riang seakan memintaku untuk segera membersihkan debu yang telah menutupi mereka. Akupun segera melangkah maju untuk membersihkan debu-debu tersebut. Namun pandangan ku tertuju pada sebuah lemari tua, dengan cat bewarna hijau dan di selimuti oleh debu yang telah menempati bagian ujung gudang ini. Kubuka lemari tersebut, dan kutemukan barang-barang yang kumiliki saat aku masih kecil.  “Sudah berapa lama aku tidak membersihkan gudang ini ya??” tanyaku dalam hati, Isi lemari tua itupun tertata rapi. Aku meraba semua barang yang ada di dalam lemari tersebut, jemariku pun terhenti pada sebuah kotak kayu tua. Aku pun teringat bahwa kotak itu adalah kotak kesayanganku yang kukira sudah hilang saat aku dan keluargaku pindah ke Kota ini.
 Akhirnya ku urungkan niatku untuk membersihkan gudang ini, dan dengan segera aku melangkah menuju ruang keluarga untuk melihat isi kotak tua tersebut.  Saat aku sampai diruang keluarga, dengan segera aku membuka kotak tua itu dan kutemukan buku diari  yang kugunakan sejak smp, dan beberapa foto saat aku masih kecil.
Kulirik foto usang yang menggambarkan aku yang sedang cemberut. Kulihat siapa yang ada disampingku di dalam foto tersebut , ternyata kakakku. Satu-satunya kakak yang kumiliki, dan sangat kubenci saat aku maih kecil dulu. Sebenarnya aku tidak membencinya, tetapi aku hanya malu dengan keadaannya yang buta. Mata kanannya yang sudah buta sejak kecil itu membuat diriku merasa tidak nyaman saat bersamanya.  Hampir setiap saat aku selalu bersamanya, saat berangkat dan pulang sekolah pun aku selalu bersamanya. Kakaku hanya beda dua tahun dariku, dia juga 2 tingkat diatasku saat ada disekolah. Dari SD, SMP, SMA aku selalu bersamanya. Mama sangat menyayangi kami berdua tetapi karena kekurangan yang dimiliki kakakku, mama pun lebih memperhatikan kakaku. Itulah yang membuat aku sangat membencinya. Ayahku seorang petani, dan ibuku hanya seorang penjual tahu keliling. Haah.. Kuingat kembali rumah yang kutempati saat aku masih kecil dulu,gunung-gunung yang menjulang tinggi ,  pepohonan, dan hutan yang masih asri. Aku merindukan itu semua…
”cicicicicicicicit” Suara kicauan burung pun menyadarkanku dari lamunanku. segera Kuambil  diary yang ada didalam kotak tua tersebut. Kulihat di sampul diary tersebut terdapat sebuah tulisan yang sempat membuatku tertawa.  Disampulnya tertulis  “milik: gelbi natasya. Catatan: sejak smp kelas 3 sampai lulus SMA. Jangan lihat isi diary ini…… kalau kau lihat, nanti kau bakalan kukutuk jadi monyet tuhh… ” . “hahaha.. dasar bocah..” pikirku dalam hati. 
Tanpa basa-basi lagi, aku pun segera membaca lembar pertama dari diariku saat masih kecil dulu. “dear diary…. Hari ini hari yang sangaat buruk……  orang buta itu menumpahkan kopi ke buku tugas matematika ku. Padahal aku baru saja selesai mengerjakan tugas matematika yang kukerjakan sejak sejam yang lalu. Huh… dasar orang buta tak tau diri… mama bela-belain dia lagi…. Haduhh mama ngak pernah mau ngertiin aku ah..”



Kubuka  lembar kedua, ternyata diisi dengan gambar-gambar hasil coretanku. Kubuka lembar ketiga.  “hari ini aku sangaat bahagia, kakaku tidak masuk sekolah karena sedang sakit. Hahaha………….. biar dia tau rasa….. aku kan jadi bebas, ngk perlu tertunduk malu seperti saat aku berjalan bersamanya..” aku pun mulai sedih melihat tulisanku tersebut. Aku merasa tidak menghargai kakak yang selama ini menjagaku. Aku menghina dan berbahagia diatas penderitaannya.
Kulingkahi beberapa lembar dari diaryku. aku melihat, hampir semua isi dari diary ku ini tentang keburukan diriku sendiri yang merendahkan kakakku dan selalu bahagia atas penderitaan kakaku. Aku pun kaget saat membaca sebuah isi dari diariku ini, disitu tertulis “sumpah.. mendingan lo mati aja. Bikin aku jadi kesusahan aja tau. Dasar orang buta ngk berguna.. ngak ada gunanya kau ada didunia ini,kau cumin bias membuatku sengsara. dasar manusia cacat…. Biadab… Gara-gara kau aku diputusin sama pacarku, kenapa kau harus melarang-larang dia datang kerumah sih? Kenapa kau memaksa dia putusin aku? . Dasar orang butaa….tak ada gunanya kau hidup” tak terasa air mata mulai menggenangi mataku. Padahal saat itu kakak melakukannya karena dia tahu bahwa cowok yang saat itu berpacaran denganku adalah seorang play boy dan pecandu narkoba. Betapa bodohnya diriku saat itu, aku malah menyalahkan kakakku.
Kubuka lembar berikutnya, “yess…. Aku berhasil menaruh racun tikus keminuman si buta itu… hahah biar dia kapok… sekarang aku cuman perlu mengerjakan tugas kuliahku dengan santaiiii…. Tidak perlu memikirkan  si buta yang bakalan marah-marah kalau aku pulang sampai larut malam.. so pasti dia bakalan mati waktu minum tuh minuman yang sudah aku taruh racun. Hahaahaaha  ^O^”  aku tak dapat berkata apapun lagi.
 Segera kubuka lembar berikutnya “ternyata selama ini aku salah.. tidak seharusnya aku membentak kakakku… tidak sepantasnya aku membencinya…. Dan seharusnya aku tidak boleh menaruh racun diminumannya…. Ternyata dia yang selama ini membiayai biaya sekolahku.. dari SMA hingga kuliah, dia bekerja banting tulang untuk membayarkan biaya sekolah dan kuliahku.. dia bahkan masih mau memaafkan aku saat kukatakan yang sejujurnya bahwa akulah yang telah meracuninya.. dia bahkan tersenyum kepadaku dan berkata ‘aku telah memaafkanmu sejak dulu. Aku selalu menyayangimu’  dia bahkan masih sempat memberikan nasehat kepadaku…  mengapa aku baru menyadarinya sekarang. Oh Tuhan, andaikan bisa… gantilah nyawaku ini dengan nyawanya…. Kakak.. aku menyayangimuu, aku berharap saat kita bertemu kembali dialam sana. Aku dapat mengatakan kalau aku menyayangimu” aku menangis tanpa henti hingga suamiku datang dan berkata “sudahlah.. jangan ditangisi lagi.. dia tau kau menyayanginya Dan dia tau kau sangat menyesali perbuatanmu”



Kakak maafkan aku,  Karna kaulah aku bisa seperti sekarang ini. jika bukan kerena kau, mungkin saat ini hidupku sudah hancur karena masih berpacaran dengan mantanku yang seorang pecandu narkoba. Dan karena kau yang telah berkorban untuk mebiayai biaya sekolahku, bahkan kau rela tidak melanjutkan sekolah hanya untuk mencari biaya sekolah untukku, aku pun bisa menjadi seorang guru seperti saat ini…