Pagi hari yang sejuk, sangat
tepat bagiku untuk merapikan gudang berdebu yang berada di ujung rumah ini.
Barang-barang yang telah tertutupi debu tebal menyambutku dengan riang seakan
memintaku untuk segera membersihkan debu yang telah menutupi mereka. Akupun
segera melangkah maju untuk membersihkan debu-debu tersebut. Namun pandangan ku
tertuju pada sebuah lemari tua, dengan cat bewarna hijau dan di selimuti oleh
debu yang telah menempati bagian ujung gudang ini. Kubuka lemari tersebut, dan
kutemukan barang-barang yang kumiliki saat aku masih kecil. “Sudah berapa lama aku tidak membersihkan
gudang ini ya??” tanyaku dalam hati, Isi lemari tua itupun tertata rapi. Aku meraba
semua barang yang ada di dalam lemari tersebut, jemariku pun terhenti pada
sebuah kotak kayu tua. Aku pun teringat bahwa kotak itu adalah kotak
kesayanganku yang kukira sudah hilang saat aku dan keluargaku pindah ke Kota
ini.
Akhirnya ku urungkan niatku untuk membersihkan
gudang ini, dan dengan segera aku melangkah menuju ruang keluarga untuk melihat
isi kotak tua tersebut. Saat aku sampai
diruang keluarga, dengan segera aku membuka kotak tua itu dan kutemukan buku
diari yang kugunakan sejak smp, dan
beberapa foto saat aku masih kecil.
Kulirik foto usang yang menggambarkan
aku yang sedang cemberut. Kulihat siapa yang ada disampingku di dalam foto
tersebut , ternyata kakakku. Satu-satunya kakak yang kumiliki, dan sangat
kubenci saat aku maih kecil dulu. Sebenarnya aku tidak membencinya, tetapi aku
hanya malu dengan keadaannya yang buta. Mata kanannya yang sudah buta sejak
kecil itu membuat diriku merasa tidak nyaman saat bersamanya. Hampir setiap saat aku selalu bersamanya,
saat berangkat dan pulang sekolah pun aku selalu bersamanya. Kakaku hanya beda
dua tahun dariku, dia juga 2 tingkat diatasku saat ada disekolah. Dari SD, SMP,
SMA aku selalu bersamanya. Mama sangat menyayangi kami berdua tetapi karena
kekurangan yang dimiliki kakakku, mama pun lebih memperhatikan kakaku. Itulah
yang membuat aku sangat membencinya. Ayahku seorang petani, dan ibuku hanya
seorang penjual tahu keliling. Haah.. Kuingat kembali rumah yang kutempati saat
aku masih kecil dulu,gunung-gunung yang menjulang tinggi , pepohonan, dan hutan yang masih asri. Aku
merindukan itu semua…
”cicicicicicicicit”
Suara kicauan burung pun menyadarkanku dari lamunanku. segera Kuambil diary yang ada didalam kotak tua tersebut. Kulihat
di sampul diary tersebut terdapat sebuah tulisan yang sempat membuatku tertawa.
Disampulnya tertulis “milik:
gelbi natasya. Catatan: sejak smp kelas 3 sampai lulus SMA. Jangan lihat isi diary
ini…… kalau kau lihat, nanti kau bakalan kukutuk jadi monyet tuhh… ” .
“hahaha.. dasar bocah..”
pikirku dalam hati.
Tanpa basa-basi lagi, aku pun
segera membaca lembar pertama dari diariku saat masih kecil dulu. “dear diary…. Hari ini hari yang sangaat
buruk…… orang buta itu menumpahkan kopi
ke buku tugas matematika ku. Padahal aku baru saja selesai mengerjakan tugas
matematika yang kukerjakan sejak sejam yang lalu. Huh… dasar orang buta tak tau
diri… mama bela-belain dia lagi…. Haduhh mama ngak pernah mau ngertiin aku
ah..”
Kubuka
lembar kedua, ternyata diisi dengan gambar-gambar hasil coretanku.
Kubuka lembar ketiga. “hari ini aku sangaat bahagia, kakaku tidak
masuk sekolah karena sedang sakit. Hahaha………….. biar dia tau rasa….. aku kan
jadi bebas, ngk perlu tertunduk malu seperti saat aku berjalan bersamanya..” aku pun
mulai sedih melihat tulisanku tersebut. Aku merasa tidak menghargai kakak yang
selama ini menjagaku. Aku menghina dan berbahagia diatas penderitaannya.
Kulingkahi beberapa lembar dari
diaryku. aku melihat, hampir semua isi dari diary ku ini tentang keburukan
diriku sendiri yang merendahkan kakakku dan selalu bahagia atas penderitaan
kakaku. Aku pun kaget saat membaca sebuah isi dari diariku ini, disitu tertulis
“sumpah.. mendingan lo mati aja.
Bikin aku jadi kesusahan aja tau. Dasar orang buta ngk berguna.. ngak ada
gunanya kau ada didunia ini,kau cumin bias membuatku sengsara. dasar manusia
cacat…. Biadab… Gara-gara kau aku diputusin sama pacarku, kenapa kau harus
melarang-larang dia datang kerumah sih? Kenapa kau memaksa dia putusin aku? .
Dasar orang butaa….tak ada gunanya kau hidup” tak terasa air mata mulai menggenangi
mataku. Padahal saat itu kakak melakukannya karena dia tahu bahwa cowok yang
saat itu berpacaran denganku adalah seorang play boy dan pecandu narkoba.
Betapa bodohnya diriku saat itu, aku malah menyalahkan kakakku.
Kubuka lembar berikutnya, “yess…. Aku berhasil menaruh racun tikus
keminuman si buta itu… hahah biar dia kapok… sekarang aku cuman perlu
mengerjakan tugas kuliahku dengan santaiiii…. Tidak perlu memikirkan si buta yang bakalan marah-marah kalau aku
pulang sampai larut malam.. so pasti dia bakalan mati waktu minum tuh minuman
yang sudah aku taruh racun. Hahaahaaha
^O^” aku tak dapat berkata
apapun lagi.
Segera kubuka lembar berikutnya “ternyata selama ini aku salah.. tidak
seharusnya aku membentak kakakku… tidak sepantasnya aku membencinya…. Dan
seharusnya aku tidak boleh menaruh racun diminumannya…. Ternyata dia yang
selama ini membiayai biaya sekolahku.. dari SMA hingga kuliah, dia bekerja
banting tulang untuk membayarkan biaya sekolah dan kuliahku.. dia bahkan masih
mau memaafkan aku saat kukatakan yang sejujurnya bahwa akulah yang telah
meracuninya.. dia bahkan tersenyum kepadaku dan berkata ‘aku telah memaafkanmu
sejak dulu. Aku selalu menyayangimu’ dia
bahkan masih sempat memberikan nasehat kepadaku… mengapa aku baru menyadarinya sekarang. Oh
Tuhan, andaikan bisa… gantilah nyawaku ini dengan nyawanya…. Kakak.. aku
menyayangimuu, aku berharap saat kita bertemu kembali dialam sana. Aku dapat
mengatakan kalau aku menyayangimu” aku menangis tanpa henti hingga
suamiku datang dan berkata
“sudahlah.. jangan ditangisi lagi.. dia tau kau menyayanginya Dan dia tau kau
sangat menyesali perbuatanmu”
Kakak maafkan aku, Karna kaulah aku bisa seperti sekarang ini.
jika bukan kerena kau, mungkin saat ini hidupku sudah hancur karena masih
berpacaran dengan mantanku yang seorang pecandu narkoba. Dan karena kau yang
telah berkorban untuk mebiayai biaya sekolahku, bahkan kau rela tidak
melanjutkan sekolah hanya untuk mencari biaya sekolah untukku, aku pun bisa
menjadi seorang guru seperti saat ini…